Emas dari Magelang: Khakim Mutorik, Penyair Muda PBI UMNU yang Suarakan Ekologi dan Kritik Sosial
Kebumen, 27 Juli 2026 – Kabar membanggakan kembali hadir dari kampus Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen. Hanya berselang beberapa hari setelah raihan perak di ajang baca puisi, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UMNU kembali mencatatkan sejarah manis melalui jari-jemari kreatif mahasiswanya. Khakim Mutorik, mahasiswa semester VII, berhasil menyabet Sertifikat Emas (Gold) dalam ajang Peksimida (Pekan Seni Mahasiswa Daerah) cabang Lomba Cipta Puisi yang berlangsung di Universitas Tidar (Untidar), Magelang, pada tanggal 9 Juli 2026.
Prestasi ini bukan sekadar kemenangan biasa. Khakim berhasil memukau para dewan juri dengan karya-karyanya yang mengangkat isu berat dan relevan, yakni tema ekologi dan kritik sosial. Lewat untaian kata-kata yang puitis sekaligus tajam, ia berhasil menyuarakan keprihatinan terhadap kerusakan alam dan ketidakadilan sosial yang terjadi di sekitar kita—sebuah keberanian intelektual yang jarang dimiliki oleh penyair muda seusianya.
"Puisi bukan hanya tentang keindahan bahasa, tapi juga tentang bagaimana kita membaca realitas. Saya ingin menyuarakan bumi yang terluka dan masyarakat yang termarjinalkan," ujar Khakim Mutorik dengan penuh semangat seusai pengumuman pemenang.
Keberhasilan Khakim meraih Gold Certificate di Untidar terbilang istimewa mengingat ajang ini diikuti oleh 26 mahasiswa terbaik dari berbagai universitas di seluruh Jawa Tengah. Dengan jumlah peserta yang tidak banyak namun merupakan para pilihan dari kampus masing-masing, persaingan di lomba cipta puisi ini berlangsung sangat ketat. Setiap karya dinilai dari orisinalitas, kedalaman makna, pilihan diksi, serta kekuatan pesan yang disampaikan.
Seperti halnya rekan sejurusnya, Safrida Sa'diyatul Azizah, perjalanan Khakim menuju puncak kemenangan juga tidak mudah. Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa akhir semester yang disibukkan dengan skripsi dan tugas-tugas akademik lainnya, ia tetap meluangkan waktu untuk meramu kata-kata menjadi puisi-puisi yang menggetarkan. Dedikasi dan konsistensinya inilah yang akhirnya membuahkan hasil berupa sertifikat bergengsi bergaris emas.
Capaian ini semakin melengkapi sederet prestasi yang ditorehkan oleh PBI UMNU di kancah Peksimida 2026. Dua mahasiswa, dua cabang lomba, dua medali bernilai—sebuah bukti nyata bahwa PBI UMNU tidak hanya unggul dalam penguasaan bahasa asing, tetapi juga memiliki jiwa seni dan kepedulian sosial yang tinggi. Hal ini sekaligus menjadi sinyal positif bagi kampus untuk terus mendukung dan mengembangkan bakat seni mahasiswa di masa mendatang.
Universitas Tidar Magelang yang menjadi tuan rumah ajang ini pun memberikan apresiasi tinggi atas kualitas karya-karya yang masuk. Salah satu juri dari lomba cipta puisi menyampaikan bahwa tema ekologi dan kritik sosial yang diangkat oleh para peserta, khususnya Khakim, menunjukkan bahwa generasi muda saat ini sangat peka terhadap isu-isu kebangsaan dan kemanusiaan.
Dengan tambahan satu Gold Certificate ini, PBI UMNU semakin mantap melangkah. Prestasi yang diraih oleh Khakim Mutorik dan Safrida Sa'diyatul Azizah diharapkan dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa lainnya untuk tidak pernah berhenti berkarya dan berani tampil di ajang-ajang bergengsi. Selamat kepada Khakim Mutorik! Suaramu telah terdengar, dan emas itu milikmu.